Nilai Ketuhanan Hindu dalam Sarana Upacara Bale Gading

I Made Putra Aryana

Sari


The implementation of religious ceremonies in Hinduism uses certain ceremonial facilities and specifically at the ceremony. Likewise, in a potong gigi ceremony using a very striking and absolutely necessary means, namely the Bale Gading facilities/uperengga. To get information about the use of bale gading facilities in potong gigi ceremonies, information was collected using interview techniques, observation techniques, library techniques and documentation. The data obtained is of a raw  nature, processed using data analysis techniques. Bale gading is a mandatory tool  used in cutting teeth ceremonies. Bale Gading in the form of a small gedong (house) made of materials, supplies    and decorations in gading color (yellowish-white). The material used is gading bamboo, the roof is made of braided frangipani flowers, cempaka or gumitir flowers, and the decoration uses white and yellow fabrics. The use of bale gading facilities in a potong gigi ceremony is symbolic of Sang Hyang Semara Ratih’s  stance being requested and  his gift during a potong gigi ceremony. In the facilities of bale gading placed upakara/banten peras ajuman daksina, canang burat wangi, canangsari completed with klungah of gading coconut which is kasturi (cut) and drawn by Semara Ratih, covered with white or yellow cloth, sangku contains water and flowers and white yellow rantasan. Bale gading is God’s sthana in manifestation of Him as Sang Hyang Semara Ratih and was asked for His grace to give the power of holy love to humanity (adolescents) to a higher level of life. In bale gading there is a function of Hinduism education, social functions and aesthetic functions.


Kata Kunci


Bale Gading, Potong Gigi Ceremony, Sang Hyang Semara Ratih

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Bagus, Lorens. 1996. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia.

Gria, Putu. 1988. Alih Aksara Lontar Janma Prawreti. Denpasar: Pusat Dokumentaasi Kebudayaan Bali.

Hamidi. 2004. Metode Peneliian Kualitaif: Aplikasi Praktis Pembuatan Proposal dan Laporan Penelitian. Malang: Universitas Muhammadiyah.

Haryadi, Bibit. 2005. Kajian Empiris Pekawinan Antaragama dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Multikultural Anak: Studi Kasus di Desa Sukerejo, Kec. Bangorejo, Kab Banyuwangi. Denpasar: IHDN.

Jaya Wijayananda, Ida Pandita Mpu. 2004. Makna Filosofis Upacara dan Upakara. Surabaya: Paramita.

Juli Sriani, Ni Putu. 2007. Upacara Potong Gigi Pasca Meninggal Dunia Di Desa Ulakan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem: Kajian Bentuk, Fungsi Dan Makna Keberagamaan. Denpasar: IHDN.

Kajeng, I Nyoman, dkk. 2005. Sarascamuscaya dengan Tesk Bahasa Sansekerta dan Jawa Kuna. Surabaya: Paramita.

Mardalis. 2004. Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta: Bumi Aksara.

Mas Putra, Ny. I Gusti Agung. 1982. Upakara- Yadnya. Denpasar: IHD.

Mas Putra, Ny. I Gusti Agung. 1987. Upakara- Yadnya. Denpasar: IHD.

Mas Putra, Ny. I Gusti Agung. 2003. Upakara- Yadnya. Denpasar: Pemerintah Propinsi Bali.

Panitia Penyusun. 1993. Kamus Bali-Indonesia. Denpasar: Pemerintah Daerah Tingkat I Bali.

Pudja, Gede. 1999. Teologi Hindu (Brahma Vidya). Surabaya: Paramita.

Pudja, Gede. 2005. Bhagavad Gita (Pancamo Veda). Surabaya: Paramita.

Purwita, Ida Bagus Putu.1992. Upacara Potong Gigi. Denpasar: Upada Sastra.

Sari, Ida Ayu Ketut. 2007.Kajian Nilai-Niali Pendidikan Agama Hindu dalam Upacara Potong Gigi di Desa Adat Kemenuh Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar. Denpasar: UNHI.

Sri Nuryani. 2006. Upacara Bersih Pundhen Waty Girang Desa Tampak Boyo, Kecamatan Tawangsari Kabupaten Sukoharjo: Kajian Bentuk, Fungsi dan Makna. Denpasar: UNHI.

Sukamiasa, I Made. 2007. Nilai-Nlai Pendidikan Agama Hindu yang Terkandung Dalam Upacara Matatahdi Desa Adat Senampahan. Denpasar: UNHI

Surayin, Ida Ayu Putu. 2004. Seri I Upakara Yajna melangkah ke Arah persiapan Upakara- Upacara Yajna. Surabaya: Paramita.

Surayin, Ida Ayu Putu. 2004. Seri IV Upakara Yajna Manusa Yajna. Surabaya: Paramita.

Suweda, A.A.Ngr.K. 1998. Alih Aksara Lontar Tahun 1998 Eka Pratama. Denpasar: Kantor Dokumentasi Budaya Bali.

Suwirnawa, I Ketut. 2005. Kajian Nilai-Nilai Pendidikan Agama Hindu Dalam Cerita Prasthanika Parwa. Denpasar: IHDN.

Team Penyusun, 1997. Panca Yadnya: Dewa Yadnya, Manusa Yadnya, Resi Yadnya, Pitra Yadnya dan Bhuta Yadnya. Denpasar: Pemerintah Daerah Tingkat I Bali.

Team Penyusun. 2007. Panca Yadnya: Dewa Yadnya, Bhuta Yadnya, Resi Yadnya, Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya. Denpasar: Pemerintah Propinsi Bali.

Tim Pelapor. 2008. Laporan Kegiatan Mahasiswa

KKNAngkatan III Tahun Ajaran Akademik 2007/2008 di Desa Celuk, Sukawati, Gianyar. Denpasar: IHDN.

Tim penyusun. 2002. Arti dan Fungsi sarana Upakara. Denpasar: Pemerintah Propinsi Bali.

Tim Penyusun. 1991. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta; Balai Pustaka.

Titib, I Made. 2003. Teologi & Simbol-Simbol Dalam Agama Hindu. Surabaya: Paramita.

Wiana, I Ketut. 1993. Yajna dan Bhakti Menurut Hindu. Denpasar: Upada Sastra.

Wiana, I Ketut. 2002. Makna Upacara Yajna dalam Agama Hindu. Surabaya: Paramita.

Wulandari, Ni Wayan Yeti Sri. 2007. Upacara Maayu-ayu di Pura Bale Agung Kembar Desa Adat Penatahan Kecamatan Penebel Kabupaten Tabanan (Analisis Bentuk, Fungsi dan Makna). Denpasar: IHDN.




DOI: http://dx.doi.org/10.25078/pkj.v22i1.1666

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.