KONSEP LANANG DAN WADON SEBAGAI SIMBOL KESETARAAN GENDER DALAM KEHIDUPAN RELIGI DAN SOSIO-KULTURAL MASYARAKAT HINDU DI DESA TRUNYAN, BANGLI

Putu Sabda Jayendra

Sari


Hinduism and Balinese culture have become an integral whole. The identity of Hinduism with Balinese culture brings consequences, namely the negative stigma given by many people about gender equality. The Balinese Hindu community in their socio-cultural life generally adopts a patri- archal system that positions women to be subordinate of the men, which is in fact contradictory to Hindu teachings that teach equality, rights and duties. But specifically for the Hindu community in Trunyan Village, Kintamani has the concept of Lanang and Wadon as a reflection of equality of male and female aspects deeply rooted from the religious system to the foundation of the socio-cultural life. The Trunyan Village community’s understanding of the teachings of equality in Hinduism adapt- ed through the local terminology of Lanang and Wadon can be an answer to how Hindu religion teaches flexibly the principle of gender equality of men and women.

Kata Kunci


Lanang;Wadon;Gender Equality;Socio-cultural;Trunyan

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Arjani, Ni Luh. 2007. “Feminisasi Kemiskinan dalam Kultur Patriarki”, dalam Jurnal Studi Jender Srikandi, Vol. 6, No. 1 Januari 2007. Universitas Udayana Denpasar.

Atmadja, Nengah Bawa. 2010. Genealogi Keruntuhan Majapahit. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Budiastra, Putu dan I Wayang Wardha. 1990: Prasasti Desa Trunyan Kintamani. Denpasar: Museum Bali.

Danandjaja, James. 1980. Kebudayaan Petani Desa Trunyan di Bali. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.

Jayendra, Putu Sabda. 2018. “Sasolahan Barong Brutuk di Desa Terunyan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli: Suatu Kajian Etnopedagogik”. Disertasi Program Pascasarjana Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar.

Koentjaraningrat. 2004. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan. Majelis Pembina Lembaga Adat Dati I Bali. 1990. Desa Adat Pusat Pembinaan Kebudayaan Bali. Proyek Bimbingan dan Penyuluhan Kehidupan Beragama Provinsi Bali.

Muhadjir, 2005; Negara dan Perempuan. Jogyakarta. CV. Adipura.

Pudja, G dan Tjokorda Rai Sudharta. 2004. Manawadharmasastra. Surabaya: Paramita.

Smith, Mark K, dkk. 2009. Teori Pembelajaran dan Pengajaran. Yogyakarta: Mirza Media Pustaka.

Spradley, James P. 2007. Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Sugata, I Nyoman. 2004. “Pertunjukan Barong Brutuk Sebagai Pemujaan Ratu Pancering Jagat di Desa Trunyan (Analisis Bentuk, Fungsi, dan Makna)” . Tesis Program Pascasarjana Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar Denpasar.

Sumerta, dkk. 2013. Fungsi dan Makna Upacara Ngusaba Gede Lanang Kapat di Desa Adat Trunyan Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli. Yogyakarta: Balai Pelestarian Budaya Bali bekerjasama dengan Penerbit Ombak.

Tilaar, H.A.R. 2007. Mengindonesia, Etnisitas dan Identitas Bangsa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Tim Peneliti Universitas Mahendradatta Bali. 2015. Desa Terunyan Eksistensi Peradaban Bali Mula. Denpasar: FISIP, FH, FT, FE Universitas Mahendradatta Bali. Titib, I Made. 1996. Veda Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan. Surabaya: Paramita.


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.